Dok. Humas UNY
Jakarta — Aksara Jawa tentu identik dengan citra visual. Bentuk huruf yang harus dilihat, ditiru, dan dibaca melalui penglihatan. Sementara bagi penyandang disabilitas sensorik netra, kondisi tersebut kerap menjadi batas tak kasatmata yang menjauhkan mereka dari warisan budaya negeri sendiri. Ketika akses belajar tidak inklusif, identitas budaya pun berisiko terputus untuk dipelajari.
Kebutuhan akan pembelajaran aksara Jawa yang ramah bagi tunanetra mendorong lahirnya inovasi sistem pembelajaran berbasis rabaan dan suara. Inovasi ini dirancang agar aksara Jawa dapat dipelajari melalui sentuhan dan pendengaran, dua indera utama yang menjadi tumpuan belajar bagi siswa tunanetra, sehingga budaya dapat diakses tanpa bergantung pada kemampuan melihat.
Sistem pembelajaran tersebut diwujudkan melalui media Repin Aja (Relief Pintar Aksara Jawa), yang mengombinasikan balok aksara Jawa timbul, huruf braille, serta tombol suara dalam satu wadah berbentuk buku. Media ini memungkinkan siswa tunanetra mempelajari aksara Jawa nglegena, yakni huruf dasar dalam aksara Jawa yang masing-masing mewakili bunyi pokok, sebagai tahap awal mengenal sistem tulisan Jawa secara utuh.
Setiap aksara pada Repin Aja dapat diraba dan akan direspons dengan audio pengucapan, sehingga proses belajar berlangsung secara interaktif dan bertahap. Media ini juga dilengkapi panduan suara, pengatur volume, serta navigasi langkah penggunaan, yang memudahkan proses belajar mandiri maupun pembelajaran terpandu di lingkungan Sekolah Luar Biasa (SLB).
Inovasi ini telah diuji coba dalam kegiatan pembelajaran di SLB dan memberikan kontribusi positif dalam membantu siswa tunanetra mengenal aksara Jawa secara lebih mudah dan bermakna. Pendekatan yang menggabungkan rabaan, suara, dan latihan kognitif menjadikan pembelajaran tidak hanya informatif, tetapi juga lebih dekat dengan kebutuhan nyata peserta didik.
Agar inovasi semacam ini tidak berhenti pada tahap uji coba, pelindungan kekayaan intelektual atau KI menjadi fondasi penting bagi keberlanjutannya. Repin Aja secara resmi diajukan sebagai Sistem Pembelajaran Aksara Jawa untuk Tunanetra Menggunakan Media Relief Pintar Aksara Jawa melalui permohonan paten yang diajukan oleh Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bersama tim inventor. Langkah ini memastikan invensi memiliki kepastian hukum untuk dikembangkan lebih lanjut.
Pelindungan paten tidak hanya melindungi invensi dari penggunaan tanpa izin, tetapi juga memberikan nilai tambah agar inovasi dapat direplikasi, diproduksi, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Dalam konteks pendidikan inklusif, paten menjadi instrumen penting untuk memastikan inovasi sosial memiliki masa depan yang jelas dan berdampak luas.
Melalui sebuah kesempatan wawancara di gedung DJKI pada 29 Desember 2025, Plt. Direktur Paten, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Rahasia Dagang Fajar Sulaeman Taman mengatakan bahwa Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atau DJKI secara konsisten mendorong dosen dan mahasiswa untuk melindungi hasil risetnya melalui pendaftaran paten.
Menurutnya, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dapat memperoleh tarif pendaftaran dan pemeriksaan paten yang lebih terjangkau dibandingkan pemohon umum, serta dapat mengajukan pengenaan tarif tertentu, termasuk opsi nol rupiah untuk biaya tahunan paten sesuai ketentuan dan mekanisme yang berlaku. Kebijakan ini ditujukan agar aspek biaya tidak menjadi hambatan dalam pelindungan KI.
“Pelindungan paten memberikan kepastian hukum sekaligus meningkatkan nilai suatu invensi. Dengan landasan itu, hasil riset kampus dapat lebih mudah dikembangkan dan dimanfaatkan secara luas, terutama untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Dengan pelindungan paten yang telah diajukan, Repin Aja diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana inovasi, budaya, dan kehadiran negara dapat berjalan beriringan. Melalui rabaan dan suara, aksara Jawa tidak lagi terbatas pada penglihatan, melainkan menjadi hak budaya yang dapat diakses oleh semua.
Bagi para penikmat kopi yang ingin memperluas pengalaman rasa, sebuah varietas unik kini hadir sebagai opsi eksplorasi: Kopi Liberika Kayong Utara. Kopi pertama dari Pulau Kalimantan yang terdaftar sebagai produk indikasi geografis tumbuh di lahan gambut pesisir Kalimantan Barat, kopi yang secara lokal dikenal sebagai Liberikayong ini menawarkan profil khas dengan aroma buah-buahan tropis seperti cempedak, memberikan warna baru di luar dominasi Arabika dan Robusta.
Minggu, 22 Februari 2026
Di pagi hari ketika kabut tipis masih menggantung di atas dataran rendah gambut Kabupaten Tanjung Jabung Barat, para petani Pinang Betara mulai menapaki lorong-lorong kebun dengan sabit panjang di tangan. Batang-batang pinang menjulang lurus, berderet rapi, sementara tandan buah matang menunggu untuk dipanen. Aktivitas ini telah berlangsung turun-temurun dari memilih bibit, merawat tanaman, hingga menjemur biji pinang di bawah terik matahari menjadi denyut kehidupan masyarakat Betara. Dari kebun-kebun inilah lahir Pinang Betara Jambi, komoditas khas yang tidak hanya menopang ekonomi petani lokal, tetapi kini juga diakui negara sebagai produk Indikasi Geografis.
Sabtu, 14 Februari 2026
Air mengalir pelan, doa dilafalkan dalam sunyi, dan kebersamaan terjalin tanpa banyak kata. Begitulah suasana Mandi Syafar setiap bulan Syafar (bulan kedua dalam kalender Hijriah Islam) di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Ritual adat ini telah hidup ratusan tahun dalam keseharian masyarakat Melayu Lingga. Bukan sebagai pertunjukan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. Sejak 2019, ritual yang tumbuh dari ingatan kolektif tersebut telah diwariskan sebagai komunal yang terlindungi secara hukum.
Minggu, 8 Februari 2026
Minggu, 5 April 2026
Kamis, 2 April 2026
Rabu, 1 April 2026