World Engineering Day 2026: DJKI – PII Perkuat Ekosistem KI untuk Insinyur Indonesia

Jakarta – Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dalam rangkaian kegiatan World Engineering Day 2026 (WED 2026). Penandatanganan ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan ekosistem inovasi nasional melalui pelindungan dan pemanfaatan Kekayaan Intelektual (KI) di bidang keinsinyuran.

PKS tersebut menjadi landasan dalam optimalisasi ekosistem KI, termasuk mendorong peningkatan jumlah permohonan KI di bidang keinsinyuran, peningkatan literasi KI, serta penguatan komersialisasi hasil inovasi. Melalui kerja sama ini, kedua belah pihak berkomitmen membangun sinergi yang berkelanjutan untuk mendukung daya saing inovasi nasional.

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Hermansyah Siregar menyampaikan, kerja sama dengan PII akan semakin memperkuat layanan KI, khususnya dalam memfasilitasi dan mempercepat proses pendaftaran. Ia menegaskan bahwa pelindungan KI merupakan langkah strategis dalam menjaga nilai ekonomi dari setiap inovasi yang dihasilkan.

“Kami berharap seluruh anggota PII, apabila memiliki kekayaan intelektual, tidak ragu untuk mendaftarkan dan melindungi karya inovasinya,” ujar Hermansyah pada pembukaan WED 2026, Rabu, 4 Maret 2026 di Balai Kartini.

Sementara itu, Direktur Eksekutif PII, Ilham Akbar Habibie, menekankan bahwa masa depan keinsinyuran tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kebijaksanaan dalam mengelolanya. Menurutnya, peran insinyur semakin kompleks di tengah perkembangan digital yang pesat.

“Di era digital yang berkembang pesat, insinyur harus mampu menjelaskan gagasan kompleks secara jelas kepada masyarakat dan pemerintah, bekerja lintas disiplin dan budaya, beradaptasi dengan perubahan, serta menjunjung tinggi etika profesional, termasuk dalam pemanfaatan AI dan teknologi baru,” ujar Ilham.

Pada kesempatan tersebut, DJKI juga membuka booth layanan Kekayaan Intelektual yang berlangsung hingga rangkaian terakhir WED 2026 pada 5 Maret 2026. Masyarakat dan peserta kegiatan dapat memanfaatkan layanan ini untuk memperoleh informasi serta konsultasi langsung terkait prosedur pendaftaran dan pelindungan KI.

Kegiatan pembukaan WED 2026 turut dihadiri oleh Maki Katsuno Hayashikawa, Director of UNESCO Office in Jakarta; Seng Chuan Tan, President of World Federation of Engineering Organizations (WFEO); serta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menunjukkan dukungan kuat terhadap penguatan peran keinsinyuran dalam pembangunan berkelanjutan dan ekosistem inovasi nasional.



LIPUTAN TERKAIT

Citarasa Pesisir: Uniknya Kopi Liberika Kayong Utara

Bagi para penikmat kopi yang ingin memperluas pengalaman rasa, sebuah varietas unik kini hadir sebagai opsi eksplorasi: Kopi Liberika Kayong Utara. Kopi pertama dari Pulau Kalimantan yang terdaftar sebagai produk indikasi geografis tumbuh di lahan gambut pesisir Kalimantan Barat, kopi yang secara lokal dikenal sebagai Liberikayong ini menawarkan profil khas dengan aroma buah-buahan tropis seperti cempedak, memberikan warna baru di luar dominasi Arabika dan Robusta.

Minggu, 22 Februari 2026

Pinang Betara Jambi: Jejak Panjang Kearifan Lokal Menuju Pengakuan Indikasi Geografis

Di pagi hari ketika kabut tipis masih menggantung di atas dataran rendah gambut Kabupaten Tanjung Jabung Barat, para petani Pinang Betara mulai menapaki lorong-lorong kebun dengan sabit panjang di tangan. Batang-batang pinang menjulang lurus, berderet rapi, sementara tandan buah matang menunggu untuk dipanen. Aktivitas ini telah berlangsung turun-temurun dari memilih bibit, merawat tanaman, hingga menjemur biji pinang di bawah terik matahari menjadi denyut kehidupan masyarakat Betara. Dari kebun-kebun inilah lahir Pinang Betara Jambi, komoditas khas yang tidak hanya menopang ekonomi petani lokal, tetapi kini juga diakui negara sebagai produk Indikasi Geografis.

Sabtu, 14 Februari 2026

Mandi Syafar, dari Ritual ke Warisan Komunal Terlindungi

Air mengalir pelan, doa dilafalkan dalam sunyi, dan kebersamaan terjalin tanpa banyak kata. Begitulah suasana Mandi Syafar setiap bulan Syafar (bulan kedua dalam kalender Hijriah Islam) di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Ritual adat ini telah hidup ratusan tahun dalam keseharian masyarakat Melayu Lingga. Bukan sebagai pertunjukan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. Sejak 2019, ritual yang tumbuh dari ingatan kolektif tersebut telah diwariskan sebagai komunal yang terlindungi secara hukum.

Minggu, 8 Februari 2026

Selengkapnya