Dari Kampus ke Komunitas, Paten Trisakti Atasi Sampah Organik

Jakarta - Inovasi teknologi pengolahan sampah organik tidak lagi berhenti di laboratorium kampus. Di Depok, sebuah alat pencacah sampah organik portabel dengan sistem knock down hasil riset Universitas Trisakti telah digunakan langsung oleh masyarakat melalui program pengabdian kepada masyarakat, menandai langkah nyata hilirisasi invensi yang kini juga telah memperoleh pelindungan paten.

Melalui program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), tim Universitas Trisakti menyerahkan mesin pencacah sampah organik multifungsi kepada Paguyuban Daur Bumi Mutiara Sentosa di Sawangan, Depok. Penyerahan tersebut disertai pelatihan intensif agar warga mampu mengoperasikan, merawat, hingga memanfaatkan hasil cacahan menjadi kompos bernilai guna.

Winnie Septiani, inventor alat pencacah sampah organik portabel dengan sistem knock down dari Universitas Trisakti menjelaskan bahwa tujuan utama pengembangan alat tersebut adalah agar teknologi dapat digunakan langsung di tingkat komunitas. Menurutnya, banyak inovasi pengolahan sampah gagal diterapkan karena tidak sesuai dengan kondisi lapangan.

“Kami merancang alat ini agar mudah dipindahkan, dirakit, dan dioperasikan oleh masyarakat. Teknologi harus mengikuti kebutuhan pengguna, bukan sebaliknya,” ujar Winnie.

Ia menuturkan bahwa pengalaman mendampingi masyarakat Depok memberikan masukan penting dalam penyempurnaan desain alat. Fleksibilitas pisau cacah serta pilihan sumber tenaga membuat alat dapat digunakan di lingkungan dengan keterbatasan listrik.

“Kami melihat langsung bagaimana warga memanfaatkan hasil cacahan untuk mempercepat pengomposan. Di situlah inovasi ini menemukan relevansinya,” kata Winnie.

Program pelatihan di Depok tidak hanya berfokus pada penggunaan mesin, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat melalui konsep green techno sociopreneur. Warga dibekali wawasan kewirausahaan berbasis lingkungan agar pengelolaan sampah dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi berkelanjutan.

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Hermansyah Siregar menilai, keterlibatan masyarakat dalam pemanfaatan invensi merupakan indikator penting keberhasilan sistem paten. Menurutnya, perlindungan hukum tidak hanya bertujuan melindungi inventor, tetapi juga mendorong pemanfaatan teknologi secara luas.

“Paten menjadi jembatan antara kreativitas dan manfaat ekonomi. Ketika invensi digunakan masyarakat, nilai strategisnya meningkat dan peluang komersialisasi terbuka,” ujar Hermansyah dalam wawancara di Gedung Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Jakarta Selatan pada Selasa, 3 Maret 2026.

Hermansyah menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam menghadirkan solusi berbasis riset bagi persoalan lingkungan, termasuk pengelolaan sampah. Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan komunitas dinilai sebagai kunci agar inovasi tidak berhenti sebagai prototipe.

“DJKI mendorong agar invensi perguruan tinggi dapat masuk ke tahap hilirisasi. Dengan begitu, manfaat paten dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” tuturnya.

Ke depan, sinergi antara dunia akademik, pemerintah, industri dan masyarakat menjadi faktor penentu agar inovasi pengolahan sampah berbasis paten benar-benar berdampak. Dari sebuah desain portabel di kampus, teknologi itu kini bergerak menuju solusi nyata bagi kota-kota yang bergulat dengan persoalan sampah organik.

 



TAGS

#Paten

LIPUTAN TERKAIT

Fitur One Time Password Aplikasi Permohonan Hak Cipta

Jumat, 21 Maret 2025

WIPO Global Award 2025

Selasa, 11 Februari 2025

INFORMASI PROGRAM KERJA SAMA PENELUSURAN DAN PEMERIKSAAN PATEN

Program Kerja Sama Penelusuran dan Pemeriksaan (CS&E) adalah program antara kantor Kekayaan Intelektual Singapura dan Indonesia untuk mempercepat proses penelusuran dan pemeriksaan paten bagi para inovator yang ingin mengajukan paten di kedua negara. Program rintisan ini diluncurkan pada tanggal 2 Januari 2025 untuk periode awal selama 2 tahun, hingga tanggal 1 Januari 2027. Pelajari selengkapnya di panduan berikut:

Jumat, 10 Januari 2025

Selengkapnya