Transaksi E-Commerce Melesat, Regulasi dan Penegakan KI Diperkuat

Jakarta – EuroCham Indonesia melalui ICTIP Working Group bekerja sama dengan South-East Asia IP SME Helpdesk menggelar diskusi bertajuk “Safeguarding Online Consumers: Practical Approaches to Tackle Counterfeit Goods in E-Commerce” pada Rabu 11 Februari 2026 di Grand Hyatt Jakarta. Acara ini mempertemukan pemangku kepentingan dari pemerintah, asosiasi industri, dan mitra internasional untuk membahas upaya perlindungan konsumen digital dari peredaran barang ilegal dan palsu.

Forum ini diselenggarakan di tengah pertumbuhan signifikan pasar e-commerce Indonesia. Dalam dokumen latar belakang kegiatan disebutkan bahwa nilai transaksi e-commerce Indonesia pada 2024 mencapai sekitar Rp512 triliun, lebih tinggi dari proyeksi Bank Indonesia. Selain itu, laporan Digital Economy Outlook 2025 yang diterbitkan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memproyeksikan nilai transaksi e-commerce mencapai Rp471,01 triliun pada 2025, atau meningkat sekitar 0,51% secara tahunan. 

Namun, peningkatan transaksi digital juga diiringi naiknya pengaduan masyarakat. Kementerian Perdagangan dilaporkan menerima 20.942 pengaduan terkait layanan transaksi online dalam rentang 2022 hingga Maret 2025, dengan sekitar 92% di antaranya diklasifikasikan sebagai penipuan serta peredaran barang ilegal dan palsu. osiasi E-Commerce Indonesia (idEA). 

Dalam sesi panel, perwakilan pemerintah dan industri menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menekan peredaran barang palsu, termasuk penguatan kebijakan platform, pelaporan, hingga mekanisme pemblokiran konten ilegal.

Dari sisi regulasi, forum ini juga menyoroti hadirnya Peraturan Menteri Hukum Nomor 47 Tahun 2025 sebagai pedoman penanganan laporan pelanggaran kekayaan intelektual dalam sistem elektronik. Regulasi ini dinilai penting karena memberikan kerangka hukum yang lebih jelas dalam penanganan pelanggaran kekayaan intelektual di ranah digital. 

Kepala Subdirektorat Penindakan dan Penyidikan DJKI Ahmad Rifadi, menekankan bahwa peran Direktorat Penegakan Kekayaan Intelektual tidak hanya terbatas pada proses pidana, tetapi juga mencakup penyelesaian sengketa serta penindakan di ruang digital. Ia menyatakan, 

“Direktorat Penegakan Kekayaan Intelektual memiliki tiga fungsi utama, yaitu penegakan melalui proses pidana, penyelesaian sengketa melalui mediasi, serta pemberian rekomendasi pemblokiran atau penurunan konten yang melanggar di platform elektronik,” ujar Rifadi.

Ia juga menambahkan bahwa regulasi baru memberikan kepastian bagi pemegang hak dan platform karena verifikasi pelanggaran dilakukan secara resmi. Menurutnya, “Melalui Peraturan Menteri Hukum Nomor 47 Tahun 2025, pemegang hak kekayaan intelektual kini memiliki dasar hukum yang jelas untuk melaporkan pelanggaran yang terjadi di sistem elektronik, termasuk penjualan barang palsu di platform e-commerce,” tambahnya.

Melalui forum ini, para pemangku kepentingan menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat perlindungan konsumen digital, meningkatkan efektivitas penegakan kekayaan intelektual, serta membangun ekosistem perdagangan elektronik yang lebih aman dan terpercaya.

 



LIPUTAN TERKAIT

IP Talks Bahas Paten Granted: Hak, Kewajiban, dan Risiko yang Kerap Terlupakan

Seri webinar IP Talks kembali digelar dengan mengangkat tema “Paten Granted: Hak, Kewajiban & Risiko yang Sering Terlupakan” pada Kamis, 12 Februari 2026 melalui daring. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman pemegang paten dan pelaku usaha bahwa paten tidak berhenti pada tahap pemberian, melainkan menuntut komitmen berkelanjutan dalam pemeliharaannya.

Kamis, 12 Februari 2026

DJKI dan Pemkot Depok Siap Hadirkan Layanan KI Terpadu

Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum bersama Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Depok membahas rencana integrasi layanan Kekayaan Intelektual (KI) melalui skema one stop service di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Depok. Inisiatif ini bertujuan untuk mendekatkan dan mempermudah akses layanan KI bagi masyarakat.

Rabu, 11 Februari 2026

Begini Cara Daftarin Desain Industri Kamu, Jangan Sampai Salah ya!

Desain Industri merupakan salah satu bentuk kekayaan intelektual yang memiliki nilai strategis bagi pelaku usaha dan juga desainer. Melalui pendaftaran Desain Industri, pemohon dapat memperoleh hak eksklusif atas tampilan visual suatu produk, yang tidak hanya dapat melindungi produk tersebut dari peniruan dan penggunaan tanpa izin oleh pihak lain tetapi juga memungkinkan pemohon mendapat nilai ekonomis dari lisensi.

Kamis, 5 Februari 2026

Selengkapnya