Membangun Merek Lebih dari Sekedar Branding

Jakarta - Jenama atau brand adalah hal yang dibicarakan pelanggan saat menggunakan suatu produk/jasa. Inilah yang memberi identitas pada produk, membuatnya dapat dikenali, dan membantu membangun ikatan emosional antara perusahaan dan konsumen.

Tetapi jenama lebih dari sekedar nama, logo, dan tagline. Jenama adalah pengalaman yang dimiliki pelanggan saat membeli produk, yang dimiliki konsumen saat memakai produk dan persepsi target pasar tentang perusahaan, produk atau layanan. Mungkin saat ini kita menyadari bahwa ada jutaan produk serupa. Oleh karena itu, keberadaan merek merupakan identitas yang dapat membedakan satu produk dengan produk lainnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Merek dan Indikasi Geografis Kurniaman Telaumbanua pada Webinar IP TALKS : Brand (H)ours Edisi ketiga dengan tema “Creating and Building Your Brand” yang berlangsung secara virtual pada Selasa, 29 Maret 2023.

Branding diperlukan untuk membangun bisnis yang kuat, kompetitif, serta mempertahankan citra di mata konsumen. Ketika brand image kuat maka kepercayaan konsumen akan melekat pada produk tersebut. Namun, hal tersebut tidak bisa dicapai jika kita tidak menerapkan strategi branding yang tepat dan benar,” ujar Kurniaman. 

Oleh karena itu, menurut Irnie Mela Yusnita selaku Pemeriksa Merek Utama Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), untuk pelaku usaha sebelum membuat merek harus dipikirkan terlebih dahulu identitas produk, bagaimana peluangnya, promosinya, dan bagaimana cara memperkenalkannya kepada masyarakat.

“Bagaimana cara buat identitas produk? Tentunya harus beda dari kompetitor. Lalu, caranya biar beda harus unik yaitu bisa menggabungkan baik kata, logo, warna, atau tagline. Tidak lupa juga harus konsisten, kontinyu, mudah diingat, fleksibel, mudah diucapkan, mudah ditemui, dan yang paling penting harus dilindungi mereknya pada Kekayaan Intelektual (KI),” kata Irnie. 

Sebagai contoh, Irnie menjelaskan untuk tagline merek minuman kekinian HAUS yang berbunyi ‘Semua berhak minum enak’. Dari tagline tersebut terlihat bahwa target konsumen yang ingin dicapai adalah semua kalangan, rasa yang bisa dinikmati semua kalangan, bisa dan dibeli oleh semua kalangan. Hal ini yang harus bisa dibuktikan kepada konsumen, bagaimana pengusaha bisa mewujudkan kepada masyarakat. Semacam janji bentuk komunikasi kepada masyarakat. 

Di kesempatan yang sama, sebagai pakar branding Amalia E. Maulana menyampaikan bahwa kekuatan sebuah brand bukan hanya dibuktikan dengan Top Of Mind (awareness) saja. Brand yang kuat adalah yang dikenal dan dimengerti. Terdapat value atau nilai yang dimengerti, disukai, dan pada akhirnya konsumen memutuskan untuk berinteraksi atau membeli produk tersebut. 

Strong brand itu berbeda dari yang lain, tidak tergantikan oleh yang lain serta memiliki manfaat yang konsisten atau tidak berubah-ubah,” kata Amalia.

Lebih lanjut, ia menyampaikan untuk kekuatan brand dapat dilihat dari seberapa banyak konsumen atau orang-orang yang mengenal, mengerti, mau membeli, dan royal bahkan mau merekomendasikan. Tidak hanya itu, bahkan ketika ada yang mengatakan brand kita jelek, konsumen dengan suka rela akan membela. Inilah level kekuatan brand

“Oleh karena itu, kita harus bisa pahami konsumen dari kesehariannya, bukan yang kita asumsikan. Pikirkan sebagai konsumen, apa kesulitan mereka,” kata Amalia. 

Adapun menurut Ghufron Syarif selaku Founder dan CEO merek minuman kekinian HAUS, untuk membangun bisnis dengan merek yang kuat bisa dimulai dengan data. Lakukan research terlebih dahulu. Kenali siapa target produk, harga yang cocok, dan cari apakah ada kesempatan pada jenis produk/bidang tersebut untuk menjadi brand yang kuat. 

Branding ini menyeluruh bukan hanya marketing communication. Bagaimana perilaku brand dengan konsumen. Kemudian untuk mendapatkan brand awareness tentukan terlebih dahulu bisa dengan memberikan kemudahan kepada konsumen dengan menyediakan banyak toko offline maupun ketersediaan di layanan online pesan-antar makanan,” pungkasnya. (ver/kad)



TAGS

#Merek

LIPUTAN TERKAIT

DJKI Ikuti Perundingan Putaran Ketujuh dalam Persetujuan Kemitraan Ekonomi Indonesia - Kanada

Semarang - Indonesia dan Kanada sepakat untuk membuat kerja sama demi memajukan perekonomian kedua negara. Upaya kerja sama itu dirundingkan dalam Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) yang dimulai sejak 2021 hingga saat ini. Perundingan ekonomi ini menyangkut banyak bidang, termasuk kekayaan intelektual.

Senin, 4 Maret 2024

Alat Musik Tradisional Sebagai Potensi Indikasi Geografis

Indonesia kaya akan budaya termasuk alat musik tradisional yang beragam dan unik. Setiap daerah memiliki alat musik khasnya sendiri yang mencerminkan sejarah, tradisi dan kekayaan budaya setempat. Alat musik tradisional ini memiliki potensi besar untuk dilindungi dan dikembangkan sebagai Indikasi Geografis (IG).

Kamis, 29 Februari 2024

DJKI Libatkan Masyarakat dalam Perancangan Renstra 2025 - 2029

Palembang - Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) menilai penting adanya perspektif masyarakat dan para pemangku kepentingan dalam pembuatan kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan kekayaan intelektual selama lima tahun mendatang. Oleh sebab itu, pihaknya menyelenggarakan kegiatan Penghimpunan Aspirasi Publik sebagai Rancangan Awal Rencana Strategis Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Tahun 2025 – 2029 pada 28 - 29 Februari 2024 di Novotel Palembang - Hotel & Residence.

Rabu, 28 Februari 2024

Selengkapnya